Bangsaku bangsa yang konsumtif bukan bangsa yang produktif

Bangsaku adalah bangsa yang banyak dikenal orang mulai dari zaman Majapahit sampai zaman modern saat ini. Banyak hal yang menyebabkan bangsaku ini sangat dikenal luas, contoh kecilnya banyak suku, budaya, bahasa sampai keragaman hayati dan fauna. Luar biasa dengan bangsaku ini. Aku sangat bangga dengan yang namanya “Indonesia”. Walaupun di era modern ini, bangsaku sedang dilanda krisis multidimensi. Sungguh aku tetap bangga dengan bangsa ini karena merahnya telah ber-embodeed pada diriku dan putihnya telah menjadi bone sehingga badan ini bisa berdiri tegak.
Kecintaanku terhadap bangsa ini sedikit terganggu dengan seringnya terdengar Indonesia adalah bangsa yang konsumtif. Padahal Indonesia sanagt berpotensi menjadi bangsa yang produktif dari berbagai sisi. Kekayaan alam, sumber daya manusia, luas wilayah adalah fakta bangsa ini memilikinya. Saya sangat miris kalau bangsa ini mau saja menjadi “surga dunia” bagi negara maju yang tidak mau bertanggungjawab. Bangsa ini mempunyai sifat konsumtif cukup tinggi mulai dari membeli barang sekunder yang dipikir-pikir tidak begitu penting, produk-produk terbaru seperti hand phone, pakaian dll bahkan hari libur yang diputuskan pemerintah.
Sebelum pasar bebas diberlakukan, kita bangga dengan Ayam Mbok Berek, Ayam Kalasan, kini dan pelan dan pasti pola makan masyarakat bangsa ini beralih ke Texas Fried Chiken, California Fried Chiken dan sejenis. Ironisnya, mereka bangga bisa makan di resto siap saji tersebut dan memiliki gengsi tersendiri bila menyantap makanan itu. Padahal di Negara asalnya, Amerika sana produk makanan dianggap ‘sampah’. Padahal produk makanan asli Indonesia tak kalah lezatnya seperti onde-onde, untir-untir, apem dan sebagainya yang pernah dulu menjadi makanan favorit.
Tak hanya itu, kita juga dimanjakan dengan kemudahan pemberian fasilitas kredit kendaraan bermotor. Cukup dengan uang 300 ribu, kita sudah membawa pulang motor baru. Bahkan dengan 3 juta kita sudah mendapatkan mobil mewah. Padahal kesemua itu merupakan kredit yang menjeret leher konsumen. betapa tidak. Kita tidak pernah berdikir, bisa bayar angsuran atau tidak? Yang penting bisa bawa pulang mobil mewah. Perkara nanti diambil paksan oleh dealer karena tidak bisa bayar, itu urusan belakangan dan yang penting kita bisa nampang. Anehnya, Mobil Mercy dan BMW di negara asalnya, Jerman, orang-orang yang menggunakan mobil tersebut jumlahnya lebih sedikit ketimbang pengguna di Indonesia. Lebih aneh lagi, berbagai motor merk Jepang telah membanjiri pangsa pasar Indonesia, sementara masyarakat Jepang sendiri sudah banyak yang beralih ke sepeda ontel karena dianggap lebih ramah lingkungan.
Lebih miris lagi, pembangunan Hiper Mall telah banyak bertebaran di seantero wilayah Indonesia dan yang menjual produk dalam negeri bisa dihitung jari. Pertanyaannya, kenapa bangsa Indonesia yang dikenal punya etos kerja tinggi, tetapi tidak mau menciptakan produk sendiri yang berkualitas? Padahal jika kita memilih produk sendiri, sebenarnya produk dalam negeri tak kalah bersaing dengan produk asing.
Tidak hanya itu satu hal yang tidak habis dipikir adalah hari libur kerja. Di dunia mungkin hanya Indonesia, negeri yang paling sering libur kerja. Jika alasannya agar kinerja aparatur pemerintahan lebih produktif, perlu dipertanyakan efektivitasnya, benarkah ada korelasi cuti bersama dengan peningkatan kualitas pelayanan publik. Seharusnya pemerintah membuat penelitian korelasi antar keduanya, sehingga kebijakan pemerintah yang menyangkut kepentingan publik tidak berdasar pada asumsi belaka, tapi berdasarkan data akurat secara empiris.
Salah satu solusinya adalah kita perlu mengubah pola pikir dari budaya konsumtif menuju budaya produktif, kalau kita tidak mau terlibas oleh bangsa asing. Maka dari itu, tidak jalan lain kecuali dengan meningkatkan budaya belajar menuju budaya produksi dengan cara banyak melihat, banyak mendengar, banyak membaca, banyak menulis dan akhirnya kita mampu memproduksi. Artinya belajar menjadi sebuah kebutuhan dalam berbagai sektor kehidupan. Karena dengan belajar itu, kita akan mendapatkan pengetahuan, teori, ilmu, sikap, mental dan lain-lain. Setelah kita memiliki budaya belajar yang bagus, baru kita mendapatkan budaya produksi. Apalagi negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah.
Setelah kita mampu memproduksi dan mengekspor, lalu kita meningkatkan budaya mutu (quality). Artinya,produk yang dihasilkan setiap saat kita perbaiki kualitasnya sesuai dengan permintaan pasar dengan terus melakukan inovasi-inovasi tiada henti di berbagai sektor. Dengan begitu, kita menjadi bangsa yang sejajar dengan produsen lain.
Dengan begitu bangsa Indonesia yang kubanggakan bisa berdiri sejajar dengan Jepang, Jerman, China ataupun Amerika Serikat. Bahkan kita bisa berdiri diatas mereka jika kita mau dan berusaha dengan keras dan tekun. Harapan itu masih ada. Majulah bangsaku.

M.Burhan R.(2008)
disunting dari : Adi Agus Kurniawan PPSDMS Nurul Fikri Bogor.

Advertisements